Senin, 08 Juni 2020

Agar Permohonan Pemindahbukuan PBK Pajak Anti Ditolak KPP


Asslamualaikum wr wb, Halo Kawan Pajak. Pernahkah kalian salah melakukan penyetoran pajak? Bagaimana solusinya? Apakah bayar lagi? Minta pengembalian atau dipindahbukukan saja? Pernahkan Kawan Pajak bermasalah ketika mengajukan pemindahbukuan?
Yuk ikuti tips dan trik dari Saya agar permohonan kawan pajak dapat diproses dengan cepat dan auto tidak ditolak oleh Account Representative di KPP.

Permohonan kawan pajak yang masuk ke KPP akan diproses dan diteliti oleh seorang AR di Seksi Waskon I. Ingat ya di KPP terdapat 4 seksi waskon. Waskon 1 lah yang bertugas memproses dan meneliti apakah suatu permohonan PBK dapat diterima atau ditolak. Sedangkan Seksi Waskon II s.d IV bertugas mengawasi kewajiban perpajakan dan penggalian potensi usaha Kawan Pajak semua.

Permohonan PBK akan diterima oleh Seksi Pelayanan di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) untuk kemudian dikirimkan ke Seksi Waskon I. Kepala Seksi Waskon I akan mendisposisikan ke AR yang terpilih. AR di Waskon I bias terdiri dari 5 s.d 10 orang yang tugasnya sama dan pembagian kerjanya biayanya adalah dibagi rata tiap adanya permohonan yang masuk. Ada juga KPP yang menerapkan model per WP per AR. Jadi misalkan Kawan Pajak mengajukan banyak permohonan dalam sekali apply, kemungkinan akan diproses oleh beberapa AR.

Setelah permohonan masuk ke AR, maka AR akan membuat Uraian Penelitian. Nah dalam Uraian Penelitian inilah seorang AR akan menentukan di terima atau ditolak. Apa saja sih yang diteliti?. Uraian penelitian ini formatnya berbeda beda di tiap AR. Suka- suka AR aja. Intinya dalam Uraian tersebut berisi uraian yang meyakinkan bahwa permohonan adalah relevan untuk diterima atau ditolak.

Berikut ini adalah contoh dari Uraian Penelitian tersebut. Biasanya terdapat point garis besar yaitu
  • -          Identitas dari Wajib Pajak Pemohon, terdiri dari Nama, NPWP, Alamat, KLU dll
  • -          Identitas dari Surat Permohonan Pemohonan, terdiri dari nomor, tanggal, tanggal diterima, Nomor LPAD
  • -          Dasar Hukum
  • -          Uraian
  • -          Simpulan dan
  • -          Usul

Dalam point uraian, AR akan meneliti secara formal dan material. Secara formal maksudnya permohonan kawan pajak sesuai dengan ketentuan formal yang mengatur tentang PBK tidak, sedangkan secara material maksudnya apakah permohonan kawan pajak memang benar sesuai yang dimaksud dalam ketentuan.

Ketentuan yang dipakai oleh AR dalam memproses PBK adalah Peraturan Meteri Keuangan Nomor 242 tahun 2014 tentang . Yang dipakai acuan adalah pada pasal 10 s.d
Nah dalam Ketentuan tersebut terdapat hal – hal yang mengakibatkan suatu pembayaran boleh di PBK atau tidak boleh di PBK. Disitu juga dijelaskan syarat dan ketentuan.

AR akan meneliti apakah Permohonan kawan pajak sudah memenuhi semua ketentuan yang tertera di PMK tersebut. Adakalanya AR menambahkan ketentuan lain yang berkaitan dan relavan dalam proses PBK tersebut.

Mari mulai point dan tips agar PBK anti ditolak:
Mulai dari persyaratan Formalnya dulu yaitu:
1.       Format surat permohonan harus sesuai dengan lampiran PMK.
Format dalam PMK sebenernya adalah contoh, tapi point-point isian disitulah yang diperlukan oleh AR untuk dapat memproses lebih lanjut.
Ada beberapa tipe AR dalam menyikapi hal ini, untuk AR yang saklek jika format beda biasanya tanpa bertele tele ke penelitian lebih lanjut langsung ditolak. Tapia da juga AR yang tetap memproses lebih lanjut asalkan esensi nya masih sesuai dengan yang terdapt di PMK.
Tips: lebih amannya pakai format yang terdapat di PMK, toh Cuma copy paste, atau dicetak trus diisi dengan tulisan tangan pun tak apa-apa.

2.       Penandatangan surat permohonan
Penandatangan di surat permohonan ini adalah harus seorang pengurus (jika Badan) Wajib Pajak Penyetor dan Yang bersangkutan (jika Orang Pribadi).
AR akan menganggap penandatangan adalah seorang pengurus biasanya akan mengecek ke pelaporan SPT Tahunan Badan di lampiran IV. Jika nama tersebut tidak terdapat di kolom tersebut biasanya akan langsung ditolak kecuali adalah ketika dilampirkan akta perubahan atau surat kuasa. Bagaimana jika penandatangan adalah orang yang diberi kuasa menandatangi faktur pajak atau bukti potong? Ada wajib pajak yang merasa bahwa penandatangan sudah pernah dilaporkan sebagai penandatangan adalah orang yang diberi kuasa menandatangi faktur pajak atau bukti potong kemudian menandatangi surat permohonan PBK. Ingat walaupun orang tersebut telah diberi kuasa menandatangi faktur pajak atau bukti potong tapi tidak berhak mewakili Wajib Pajak untuk mengajukan permohonan di bidang perpajakan.

Tips: Surat kuasa ditandangani oleh pengurus yang sudah dilaporkan di SPT Tahunan badan Lampiran IV, atau dilampiri dengan akta perubahan yang menyatakan bahwa penandatangan adalah pengurus atau surat kuasa khusus yang sesuai format di PMK tentang kuasa wajib pajak.

3.       Dilampiri dengan Surat Setoran Pajak (SSP) atau Bukti Penerimaan Negara (BPN).
Untuk Surat Setoran Pajak (SSP) harus dilampirkan asli sedangkan Bukti Penerimaan Negara (BPN) boleh dengan cukup fotokopi atau cetakan yang menimal terdapat Nama, NPWP, Nilai dan NTPN. Nomor NTPN ini adalah nomor unik yang menyatakan bahwa pembayaran kawan pajak semua telah masuk di system penerimaan Negara.

Tips : Harus dilampiri SSP/ BPN atas pembayaran yang akan di PBK an
Jika semua persyaratan tersebut telah dipenuhi, AR akan melanjutkan ke penelitian material
Tips untuk material permohonan adalah sebagai berikut:

1.       Alasan pemindahbukuan
Alasan yang dibenarkan dan diperbolehkan untuk dapat di PBK adalah yang tercantum dalam PMK 242 . Intinya yang dapat di PBK adalah yang murni dikarenakan salah setor dan kelebihan pembayaran dari yang seharusnya terutang.

Untuk yang salah setor misalnya gini, kawan pajak ingin menyetor untuk pembayaran atas kurang bayar di SPT Masa PPN yang seharusnya kode jenis pajak/MAP adalah 411211-100, tetapi kawan pajak salah klik atau pilih ketika membuat kode biling misalnya menjadi MAP 411121-100 (SPT Masa PPh Pasal 21) dan sudah terlanjur sampai dibayar. Nah atas kasus tersebut kawan pajak boleh mengajukan PBK.
Salah tulis / setor tersebut juga bisa untuk salah nama, NPWP, Kode Jenis Pajak/Kode Jenis Setoran, Masa Pajak, Tahun Pajak, Nomor SKP, dan Jumlah

Alasan yang kedua adalah karena kelebihan pembayaran dari yang seharusnya terutang.
Contohnya adalah misalnya kawan pajak telah membuat perhitungan manual ternyata kurang bayarnya adalah 100 juta tapi ketika membuat SPT PPN Masa ternyata kurang bayarnya adalah Cuma 90 juta. Nah atas sisanya 10 juta bias diajukan PBK ke jenis atau masa pajak yang lain.

Baru-baru ini keluar Nota Dinas dari Direktur PP I yang menambah ketentuan/penegasan baru tentang kelebihan pembayaran dari yang seharusnya terutang yang sebabkan karena pembetulan/pembatalan bukti potong pasal

Sebelum adanya penegasan ini kelebihan pembayaran dari yang seharusnya terutang yang sebabkan karena pembetulan/pembatalan bukti potong tidak dapat di PBK dan diproses melalui pengembalian pajak yang seharusnnya tidak terutang sesuai PMK 187

Dalam pasal PER 04 yang mengatur tentang kelebihan pembayaran dari yang seharusnya terutang yang sebabkan karena pembetulan/pembatalan bukti potong menyatakan bahwa
2.       Pihak yang mengajukan permohonan
Adalah wajib pajak penyetor.
Misal:
-            PT A, NPWP 01.234.567.8-058.000 mengajukan PBK ke PT A , NPWP 01.234.567.8-058.000 maka yang mengajukan adalah pengurus dari PT A
-            PT A, NPWP 01.234.567.8-058.000 melalukan kesalahan setor (misal atas PPh Pasal 22, Pasal 4 ayat (2) dan PPN) atas pembayaran dari PT B, NPWP 99.999.999.9-058.000 maka yang mengajukan PBK adalah pengurus dari PT A , NPWP 01.234.567.8-058.000 dengan harus dilampiri surat pernyataan bermaterai dari PT B yang menyatakan tidak keberatan atas pembayarannya untuk di PBK.
3.       Pembayaran yang diajukan PBK belum diperhitungkan dengan pajak yang terutang.
Maksudnya adalah atas BPN yang akan di PBK tidak/belum digunakan di SPT manapun atau di SKK/STP manapun
4.       Pembayaran yang diajukan PBK belum pernah diajukan PBK dan disetujui dan belum pernah diajukan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang sesuai PMK 187 dan disetujui.
Kalau permohonan PBK dan Pengembalian PMK 187 sebelumnya ditolak boleh diajukan PBK kembali.
5.       Pembayaran yang diajukan PBK tidak atau sedang diperiksa di masa dan jenis pajaknya sesuai data BPN nya.
Misalnya Kawan Pajak mengajukan PBK untuk MAK 411211 masa 01 2018 sedangkan pada masa pajak tersebut sedang diperiksa oleh Pemeriksa Pajak maka atas PBK tersebut bisa ditolak/ditanggungkan terlebih dahulu sampai pemeriksaan selesai. Jika nantinya memang pemeriksa pajak tidak mengakui/mengakomodir pembayaran tersebut maka bias diajukan kembali PBKnya.
6.       Yang tidak dapat dilakukan PBK
AR akan meneliti apakah PBK yang diajukan termasuk dalam SSP/BPN yang tidak dapat dilakukan PBK. Berdasarkan Pasal 16 ayat (9) PMK-242/PMK.03/2014 SSP/BPN tersebut adalah:
-          Pemindahbukuan atas SSP yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak, yang tidak dapat dikreditkan berdasarkan ketentuan Pasal 9 ayat (8) Undang-Undang PPN;
-          Pemindahbukuan ke pembayaran PPN atas objek pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dengan menggunakan SSP yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak; atau
-          Pemindahbukuan ke pelunasan Bea Meterai yang dilakukan dengan membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas dengan mesin teraan meterai digital.
SSP yang kedudukannya sebagai faktur dijelaskan dalam PMK diantaranya adalah PPN JLN
Berdasarkan Nota Dinas Direktur Jenderal Pajak Nomor ND-1225/PJ.02/2019 Point 2d dijelaskan bahwa Kepala KPP dapat melakukan Pemindahbukuan atas SSP PPN  BKP Tidak Berwujud / PPN JLN  berdasarkan permohonan Wajib Pajak, dengan ketentuan dokumen pembayaran tersebut merupakan bukti pembayaran PPN  BKP Tidak Berwujud / PPN JLN yang secara nyata terutang, yang dibuktikan dengan melampirkan dokumen tagihan dan rincian berupa jenis dan nilai BKP Tidak Berwujud atau JKP serta nama dan alamat penyedia BKP Tidak Berwujud atau JKP dan kesalahan yang bersifat administratif sebagaimana dimaksud pada huruf c, berupa kesalahan dalam pengisian nama Wajib Pajak, kode KPP, kode akun pajak, kode jenis setoran, NPWP, dan/atau Masa Pajak, dalam dokumen pembayaranLampiran pendukung permohonan yang relevan.

Berdasarkan Nota Dinas Direktur Jenderal Pajak Nomor ND-132/PJ.02/2020 tanggal 24 Januari 2020 tentang Pengembalian kelebihan pembayaran pajak atas kesalahan pemotongan PPH Pasal 23 dan/atau Pasal 26 Berdasarkan Per Dirjen NO. PER-04/_J/2017, disebutkan dapat di PBK dengan syarat telah dilakukan pembetulan bukti potong dan SPT Pembetulan serta surat pernyataan dari pihak yang dipotong bahwa wp tersebut telah menerima pengembalian dari wajib pajak pemotong dan tidak akan mengajukan permohonan pengembalian atas kelebihan pemotongan ke KPP tempat WP yang dipotong terdaftar.
7.       Surat permohonan harus dilampiri dengan dokumen yang dapat meyakinkan AR dalam melakukan penelitian material, diataranya:
-          surat pernyataan dari Wajib Pajak yang nama dan NPWP-nya tercantum dalam SSP, yang menyatakan bahwa SSP tersebut sebenarnya bukan pembayaran pajak untuk kepentingannya sendiri dan tidak keberatan dipindahbukukan, dalam hal nama dan NPWP pemegang asli SSP (yang mengajukan permohonan Pemindahbukuan) tidak sama dengan nama dan NPWP yang tercantum dalam SSP.
-          fotokopi Kartu Tanda Penduduk penyetor atau pihak penerima Pemindahbukuan, dalam hal permohonan Pemindahbukuan yang diajukan atas SSP, SSPCP, BPN, atau Bukti pbk yang tidak mencantumkan NPWP atau mencantumkan angka 0 (nol) pada 9 (sembilan) digit pertama NPWP
-          asli pemberitahuan pabean impor, asli dokumen cukai, atau asli surat tagihan/surat penetapan, dalam hal permohonan Pemindahbukuan diajukan atas SSPCP;
-          Copy SPT pembayaran yang bersangkutan
-          Surat Pernyataan bahwa permohonan belum pernah
-          Copy Bukti Potong Pembatalan/Pembetulan
-          Copy SPT lawan transaksi
-          dokumen pendukung lainnya yang relevan misalnya invoice, surat pernyataan, kronologis kejadian penyebab kesalahan setor, rekap perbayaran dll.

Jumat, 23 Juni 2017

35 tahun

Hari ini 35 tahun perjalanan hidupku di dunia yang hanya sementara. Tepatnya tanggal 30 Ramadhan , 1 hari menjelang idul fitri. Syukur kepada Alloh atas segala nikmat yang telah aku lalui terutama nikmat iman dan islam dan berharap dilimpahi khusnul khotimah kelak.

Sampai dengan hari ini banyak hal pencapain yang telah aku peroleh semoga menjadi barokah dan di ridhoi Alloh SWT.

Banyak hal juga kekurangan dalam diri ini yang perlu diperbaiki dan semoga Alloh mengampuni segala ketidakmampuan, ketidaktahuan, ketidakmauan maupun kesalahan yang sengaja maupun tidak.

Akhirnya aku berharap Alloh selalu menganugrahi hidayahnya, membimbing, melindungi, menyayangi dan mengasihi ku sepanjang hidupku di dunia dan diakhirat yang abadi.

Aku juga berniat dan bertekad untuk selalu menjadi orang yang baik. Menjalankan perintah dan menjauhi larangan Alloh SWT dan mengharap ridho Nya.

Aku berdoa untuk orang2 yang kukasihi, Ibuku, Istriku, Anak2ku, Mertuaku, Saudara2ku dan Teman2ku. Semoga kita dapat hidup bahagia bersama menjalani sisa usia kita. Aamiin

Minggu, 11 Juni 2017

Aaaaaaaaaaaaa

Aaaaaaaaaa.... sebelnya.... kalo punya barang trs barangnya tergores sesuatu.... padahal ini baru barang titipan... ya sudah lah ikhlaskan ... maafkan ya Rob... instropeksi....

Rabu, 28 Desember 2016

Etika berkendara di jalan raya

Miris jika kita melihat kondisi cara berlalu lintas warga indonesia. Coba kalo rasa dan sikap hormat menghormati hak orang lain dan tolong menolong diterapkan pasti akan tertib lalu lintasnya. bayangkan saja kalo setiap marka dilanggar, genangan air di trabas yang mengakitkan sebelahnya basah dan kotor. huff entahlah..

Rabu, 09 November 2016

Apa yang Diinginkan Allah dari Manusia?

Apa yang Diinginkan Allah dari Manusia?

Dalam 30 Juz Al-Qur’an, firman Allah selalu didahului dengan Nama-Nya. Bismillah, dengan Nama Allah selalu menghiasi awal dari surat-surat Al-Qur’an. Dan bagaimana Allah mengakhiri firman-Nya dalam Al-Qur’an? Dia mengakhirinya dengan An-Nas yang memiliki arti manusia. Demikian erat hubungan antara Allah dengan manusia hingga Allah mengawali Al-Qur’an dengan Nama-Nya dan mengakhirinya dengan manusia. Kali ini kita akan mempelajari suatu hal yang harus diketahui oleh seorang manusia. Imam Ja’far As-Shodiq pernah berkata,
“Kutemukan ilmu manusia seluruhnya hanya terangkum dalam 4 hal,
  1. Mengenal tuhannya
  2. Mengetahui apa yang diperbuat Tuhan kepadanya.
  3. Mengetahui apa yang diinginkan Tuhan darinya.
  4. Mengetahui apa saja yang memalingkannya dari agama.”
Mungkin dibenak kita telah terbersit, mengapa Allah menyuruh kita solat, puasa, menjalankan kewajiban yang lain? Mengapa Allah melarang kita dengan berbagai macam larangan? Apa yang sebenarnya di inginkan Allah dari manusia?
Kali ini kita akan fokus kepada satu pengetahuan yang harus kita pahami menurut Imam Ja’far Shodiq. Suatu pertanyaan yang harus terjawab secara utuh. Apa yang di inginkan Allah dari hamba-Nya?
Allah swt menginginkan sesuatu dari hamba-Nya padahal Dia tidak membutuhkan apapun dari seorang hamba. Kita semua meyakini bahwa Allah tidak butuh dengan ibadah kita. Imam Ali dalam khutbahnya ketika berbicara tentang Allah swt, beliau berkata,
“(Allah) Tidak mendapat manfaat sedikitpun dari seorang yang taat dan tidak mendapat kerugian sedikitpun dari hamba yang bermaksiat.”
إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ -٧-
“Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu.”(Az-Zumar 7)

Jika Allah tidak butuh apapun dari manusia, lalu apa yang diinginkan dari hamba-Nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali pada tujuan manusia diciptakan. Dalam Hadist Qudsi-Nya, Allah berfirman,

“Hamba-Ku, Ku Ciptakan segala sesuatu untukmu dan Ku Ciptakan engkau untuk-Ku”

“Wahai Daud, katakan pada hamba-Ku ! Ku Ciptakan mereka tidak untuk memperoleh keuntungan, tapi agar mereka mengambil keuntungan dari-Ku.”


Jika kita melihat tujuan penciptaan didalam Al-Qur’an, akan kita temukan ayat yang sering telah kita hafal bersama, Allah berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ -٥٦-
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat 56)

Ya, tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Ibadah bukan hanya berbentuk ritual semata. Perlu kita ingat bahwa setiap perbuatan yang dilandasi dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, maka itu juga termasuk ibadah. Termasuk makan, minum, mencari nafkah, semua itu bisa menjadi ibadah dan mendapatkan pahala di sisi Allah.
Tapi ibadah bukanlah tujuan akhir. Kita akan temukan tujuan yang lebih jauh dari ibadah ketika Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ -٢١-
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhan-mu yang telah Menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah 21)
Bahkan ketika Allah mewajibkan ibadah puasa, ada tujuan lain dibalik ibadah itu. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ -١٨٣-
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Al-Baqarah 183)

Takwa adalah tujuan selanjutnya dibalik ibadah. Allah memerintahkan kita untuk beribadah agar kita mencapa derajat takwa. Lalu apa untungnya jika kita telah bertakwa?
Butuh kajian khusus untuk membahas takwa, secara singkat kita akan mengutip satu ayat dari Allah swt yang menjelaskan tentang keuntungan dari takwa. Allah berfirman,
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً -٢- وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ -٣-
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Membukakan jalan keluar baginya, Dan Dia Memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (At-Thalaq 2)

Namun takwa juga bukan tujuan akhir dari penciptaan. Ada tujuan akhir dibalik ketakwaan. Ketika Allah menyuruh manusia untuk beribadah agar mereka bertakwa, Allah menginginkan sesuatu dari mereka. Dan tujuan akhir dibalik ketakwaan itu adalah kesuksesan manusia itu sendiri. Allah berfirman,
وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -١٨٩-
“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Al-Baqarah 189)
وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -١٣٠-
“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Ali Imran 130)
فَاتَّقُواْ اللّهَ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -١٠٠-
“Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.” (Al-Ma’idah 100)
Tujuan akhir dari penciptaan manusia kembali kepada diri mereka sendiri. Apa yang diinginkan Allah dari hamba-Nya?
Allah ingin mereka menjadi orang yang sukses. Allah ingin melihat hamba-Nya mencapai kesempurnaan. Keinginan Allah ini tidak untuk menguntungkan Diri-Nya sama sekali. Semua yang di inginkan Allah dari hamba-Nya murni untuk keuntungan mereka sendiri.
Pemahaman ini begitu penting karena kita tidak akan pernah merasa terbebani dengan segala aturan Allah swt setelah meyakini hal ini. Mengapa?
Karena semua yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri. Sekecil apapun kebaikan akan kita nikmati dan sekecil apapun keburukan akan kita pertanggung jawabkan.
Namun kesuksesan itu begitu samar. Setiap kepala memiliki arti kesuksesan yang berbeda-beda. Teringat ketika tukang sihir Fir’aun hendak melawan Nabi Musa as, apa arti kesuksesan yang ada di pikiran mereka?
وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى -٦٤-
“Dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari ini.” (Thaha 64)
Kesuksesan bagi mereka adalah menang melawan musa dan mendapat kedudukan tinggi di sisi Raja. Namun, apa kesuksesan yang sebenarnya menurut Al-Qur’an? Apakah Allah menginginkan manusia mencampakkan dunia dan hanya mendapat kesuksesan di akhirat? Siapa sebenarnya orang yang sukses itu?

Secara ringkas kita telah sebutkan orang-orang sukses menurut Al-Qur’an dalam hikmah Siapakah Orang Sukses menurut Penciptanya.
Namun kali ini kita akan fokus pada syarat utama bagi seseorang yang ingin mencapai kesuksesan. Syarat yang paling wajib bagi manusia yang hendak menapaki jalan kesempurnaan.
Dalam bagian sebelumnya kita telah sadar bahwa yang Allah inginkan dari manusia adalah kesuksesan mereka sendiri. Yaitu sampainya seorang hamba kepada kesempurnaan. Allah sama sekali tidak mengaharapkan apapun untuk keuntungan Diri-Nya.
Namun, bagaimana seorang hamba bisa meraih kesuksesan? Allah swt berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى -١٤-
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” (Al-A’la 14)
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا -٩-
“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (As-Syams 9)

Ya, orang sukses adalah orang yang mensucikan dirinya. Karena penyucian diri adalah syarat utama bagi seorang yang menaiki tangga kesempurnaan. Ketika hati masih kotor, msutahil dia akan mendekat pada kesempurnaan yang suci. Semua perintah dan larangan Allah itu bertujuan untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan. Akankah dia akan sempurna jika hatinya penuh dengan noda dan dosa?
Bahkan salah satu tugas penting dari para nabi adalah mensucikan jiwa umatnya. Karena nabi diutus untuk membimbing manusia menuju kesempurnaan. Dan salah satu fase terpenting untuk menjadi sempurna adalah penyucian diri.
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ -٢-
“Dia-lah yang Mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (Jumu’ah 2)
Selain itu, tidak ada surat didalam Al-Qur’an yang menyebutkan sumpah sebanyak Surat As-Syams. Surat ini didahului 7 sumpah. Dan ternyata, semua sumpah itu untuk menekankan betapa beruntungnya seorang yang mensucikan diri.
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا -١- وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا -٢- وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا -٣- وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا -٤- وَالسَّمَاء وَمَا بَنَاهَا -٥- وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا -٦- وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا -٧- فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا -٨- قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا -٩-
“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita), demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan), demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaan(ciptaan)nya, maka Dia Mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (As-Syams 1-9)

Dengan sifat Pengasih dan Penyayangnya, Allah ingin melihat hambanya berhasil, sukses dan sempurna. Berada dalam kenikmatan abadi di surga. Tapi apakah Allah hanya ingin kita sukses ketika di akhirat saja?
Banyak orang berpikir bahwa islam adalah agama yang fokus kepada akhirat saja. Dia secara tidak sadar telah mendzolimi islam itu sendiri. Seakan akan pengikut islam itu pasti akan tertindas, miskin dan hidupnya tidak enak karena yang dipikirkan hanya kehidupan akhirat saja.
Sungguh tidak demikian ! Allah tidak hanya ingin hamba-Nya sukses di akhirat. Dia ingin melihat hambanya sukses di dunia sampai di akhirat. Coba perhatikan, apa janji Allah bagi manusia yang memilih jalan kebaikan,
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ -٩٧-
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami Beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl 97)
Dalam ayat ini, Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang berlipat di akhirat ketika seorang memilih jalan keimanan dan berbuat baik. Islam bukan agama ritual saja yang menghabiskan umur hanya didalam Mihrob. Islam sangat memperhatikan kehidupan dunia, walaupun selalu di ingatkan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.
Silahkan menikmati kenikmatan dunia dan mencapai kesuksesan di dalamnya. Karena tolak ukur kesuksesan adalah seberapa dekat seorang hamba kepada Allah swt. Dan kedekatan itu mustahil diraih tanpa kesucian hati. Sesuatu yang kotor tidak bisa mendekat kepada Sumber Kesucian.
Karenanya, seorang yang berpaling dari Allah swt tidak akan mencapai kesuksesan walaupun itu di dunia. Dia tidak akan memiliki kebahagiaan dan ketenangan hati. Allah berfirman,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً-١٢٤-
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (Thaha 123)
Garasi yang dipenuhi mobil mewah, rekening berisi milyaran rupiah dan jabatan setinggi apapun tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Berapa banyak orang yang bunuh diri di puncak karir kehidupannya?
Bukan disitu letak kebahagiaan. Ia ada didalam hati. Dan hati itu tidak akan pernah bahagia sebelum kita serahkan pada pemilik sebenarnya.
أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ -٢٨-
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d 28)

Apa yang Allah inginkan dari kita?
Dia hanya ingin kita sukses di dunia sampai kelak di akhirat. Dan orang yang berpaling dari-Nya sungguh telah mendzolimi dirinya sendiri. Kenapa?
Karena Allah telah memberi sarana dan fasilitas yang lengkap untuk mengantarkannya pada pintu kesuksesan. Akal yang sempurna diberikan, para nabi diutus untuk membimbing, Al-Qur’an dijaga agar tetap menjadi petunjuk. Semua itu disediakan untuk mengantar manusia pada kesuksesan dan kesempurnaan. Tapi masih ada saja yang menolak. Bukankah mereka telah mendzolimi diri mereka sendiri?
وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ-١-
“Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum -hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (At-Thalaq 1)
وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ-١١٠-
“Dan barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya.” (An-Nisa’ 110)

Manusia telah berbuat jahat kepada dirinya sendiri. Sementara Allah swt tidak pernah sedikit pun mendzolimi hamba-Nya.
وَمَا اللّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعَالَمِينَ -١٠٨-
“Dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapa pun) di seluruh alam.” (Ali Imran 108)
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعِبَادِ -٣١-
“Padahal Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba- hamba-Nya.”(Ghafir 31)

Apa yang Allah inginkan dari manusia? Setelah penjelasan panjang tadi, sebenarnya Allah menginginkan kemudahan bagi hamba-Nya. Allah berfirman,
يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ -١٨٥-
“Allah Menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak Menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah 185)

Sebenarnya agama ini tidaklah sulit. Jangan pernah menganggap agama membelenggu kita. Islam hanya membimbing kita untuk menjadi manusia sempurna. Hanya orang yang tidak memahami yang menganggap agama adalah beban. Bukankah Allah tidak pernah menentukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan hamba-Nya?
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا-٢٨٦-
“Tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah 286)

Bukankah Allah tidak pernah menyiksa sebelum memberi peringatan dan mengutus para nabi? Semua itu Allah lakukan agar manusia mencapai kesuksesan dunia akhirat. Dia tidak ingin merepotkan hamba-Nya dengan perintah dan larangan. Karena semua keuntungan hanya akan kembali kepada si hamba.
مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـكِن يُرِيدُ لِيُطَهَّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ -٦-
“Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak Membersihkan kamu dan Menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” (Al-Ma’idah 6)
يُرِيدُ اللّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً -٢٨-
“Allah hendak Memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (An-Nisa’ 28)

Imam Muhammad Al-Baqir pernah berkata,

“Demi Allah, Dia tidak mengingingkan sesuatu dari manusia kecuali 2 hal. (Dia menginginkan) agar manusia mensyukuri nikmat agar ditambah (kenikmatan itu) kepada mereka. Dan menyesali dosa-dosa agar (Allah) mengampuni mereka.”

Akhirnya, tidak akan sempurna iman seseorang sebelum ia rela dan tidak merasa keberatan dengan ketentuan Allah swt.
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً -٦٥-
“Maka demi Tuhan-mu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’ 65)

Mengapa kita menganggap agama ini beban padahal yang dihalalkan jauh lebih banyak dari yang diharamkan. Ingatkah anda ketika Nabi Adam berada di surga, Allah menghalalkan semuanya dan hanya mengharamkan satu buah saja.
Begitulah gambaran kehidupan dunia. Allah menghalalkan segala sesuatu dan mengharamkan sebagian kecil darinya tapi kita selalu merasa keberatan untuk meninggalkannya. Padahal semua hal yang dilarang itu karena akan membahayakan diri manusia sendiri.
Jika kita mau berpikir logis, dimana beban agama itu? Padahal sekecil apapun kebaikan akan kita nikmati sendiri.
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا -٧-
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (Al-Isra’ 7)

Kesimpulannya, Manusia diciptakan untuk beribadah ⇒ Ibadah bertujuan untuk menumbuhkan takwa ⇒ Dibalik ketakwaan ada kesuksesan ⇒ Dan puncaknya, Allah hanya ingin manusia mencapai kesuksesan dunia dan akhirat.
Semoga dengan mengetahui apa yang diinginkan Allah dari manusia, kita tidak lagi merasa terbebani dengan aturan agama. Karena Syariat Allah ini hanya untuk keuntungan kita semata.

dikutip dari Khazanahalquran.com